Sejarah

Sejarah Madinatul Qur’an Depok

MQ Depok | Berjamaah membawa berkah, begitulah rutinitas para pendiri Pesantren Madinatul Qur’an Depok. Berawal dari sebuah obrolan ringan yang terlontar ketika menyiapkan kegiatan dakwah, disepakati untuk mendirikan lembaga pendidikan pesantren tahfizh. Saat itu hanya sebatas ide, mimpi dan cita-cita karena dana dan penunjang lain belum ada.

Berdirinya Pesantren Madinatul Quran ini tak lepas dari kegiatan para pendiri yang komit dalam kegiatan dakwah. Setiap pekan berkumpul di sebuah majelis untuk mendiskusikan berbagai hal yang bukan hanya sekedar menimba ilmu pengetahuan, tapi berdiskusi merencanakan kegiatan-kegiatan dakwah apa yang bisa dipersembahkan untuk umat Islam.

Suatu hari, di tahun 2008 para pendiri Yayasan yang berjumlah 11 orang dari latar belakang yang berbeda-beda, baik pendidikannya maupun pekerjaannya sepakat untuk merintis pesantren. Mereka adalah Albaini Zuhdi, S.Pd (seorang guru teladan sebuah sekolah negeri di Jakarta), Ali Amril, S.Si, (aktivis KNRP, Komite Nasional untuk Rakyat Palestina), Ir. Arief Surdijanto (pemborong properti), Hendriyadi Chaniago, S.Pd (TU salah satu sekolah Islam terpadu di Depok), Tri Hardiyanto (pegawai swasta), Kyai Khoirul Muttaqin, Lc, Al-Hafizh, Lutfi, SE (swasta), Dr. Sholihien Hadziq, S.H.I., M.P.I. (guru PAI salah satu sekolah Islam terpadu di Depok), Wardi, S.Pd (guru PAI salah satu sekolah Islam terpadu di Depok), Kyai Zainal Muttaqien (staf pengajar salah satu lembaga tahfizh), dan Oktori Winarno, A.Md (guru salah satu sekolah negeri di kota Depok).

Meskipun kesebelas orang ini memiliki latar belakang yang berbeda, namun memiliki satu visi dan misi yang sama dalam berdakwah, yang justru karena latar belakang yang berbeda ini mereka bisa berhimpun untuk saling melengkapi.

Adalah KH. Khoirul Muttaqin, Lc, Al-Hafizh satu di antara kesebelas orang ini yang memiliki kemampuan lebih di bidang agama, selain seorang hafizh dengan kualitas mutqin dan bersanad, suaranya juga indah, pun beliau menjadi pembina banyak Majelis Taklim di sekitaran ibu kota (khususnya). Dan secara rutin selama bulan suci Ramadhan beliau menjadi imam dan penceramah di masjid Al-Ikhlas, Amsterdam, Belanda. Kegiatan ini berjalan lebih dari lima belas tahun.

Menyadari pentingnya regenerasi dai untuk melanjutkan estafeta dakwah, akhirnya mereka sepakat membuat sebuah yayasan yang bernama Madinatul Qur’an Depok yang disahkan di hadapan notaris Titiek Soebekti, SH pada 17 April 2009.

Dengan berbekal dana yang bersumber dari jamaah di Amsterdam, para pendiri mencari sebidang tanah untuk perintisan pesantren. Ketika proses pencarian, tim dipertemukan Allah dengan Ustadz Abdul Wahid (alm.), perintis Majelis Taklim Baitus Syaakirin Depok untuk melihat tanah yang ada di Cilodong, yang sekarang menjadi Pesantren Madinatul Quran kampus Madinah.

Setelah memiliki tanah, para pengurus bersama-sama mencari pendanaan dari berbagai sumber, baik Majelis-majelis Taklim, DKM-DKM, perusahaan ataupun perseorangan.

Masjid Pesantren adalah bangunan pertama yang didirikan dengan bantuan dana dari Yayasan Hilal Ahmar, sebuah lembaga yang mengelola dan menyalurkan dana kemanusiaan yang bersumber dari para donatur asal Timur Tengah.

Dalam sebuah kegiatan taklim rutin, salah seorang jama’ah meminta Kyai Khoirul Muttaqin untuk mengajar ngaji di rumahnya. Beliau adalah Ibu Hj, Balgis Murad Haris, isteri dari bapak H. Abdul Satar.

Pada suatu kesempatan usai mengajar Kyai Khoirul Muttaqin mengutarakan niat untuk membangun pesantren. Respon istimewa dari beliau diwujudkan dengan mewakafkan tiga rumah yang ada di Perumahan  Mekar Perdana, Depok Timur untuk tempat belajar para santri.

Berbekal ketiga rumah ini dibangunlah asrama dan tempat pembelajaran yang diberi nama Ma’had Madinatul Qur’an Kampus Mekah sebagai tempat pengkaderan bagi para calon guru Al-Qur’an yang kelak mengelola pesantren secara keseluruhan.

Penamaan kampus Mekah bukan tanpa alasan, ini memiliki makna filosopi. Selain karena berlokasi di Perumahan Mekar Perdana, juga sebagai kampus pembinaan awal sekaligus pengkaderan dai yang siap langsung terjun berdakwah.

Program di kampus Mekah ini adalah membina para mahasantri/wati untuk memiliki hafalan Al-Qur’an secara mutqin (baik), memberikan pembekalan ilmu-ilmu syari’ah (dirosah islamiyah) serta life skill sebagai bekal kehidupannya. Program ini dibiayai sepenuhnya oleh para donatur baik personal, lembaga swasta, instansi ataupun Majelis-majelis taklim dan DKM. 

Pada tahun 2023 ini jumlah mahasantri baik putra ataupun putri mencapai 48 orang, terdiri dari 24 putra dan 24 putri, berasal dari berbagaai daerah di Indonesia dengan sebaran yang merata.

Sementara kampus Madinah  Cilodong, menyelenggarakan pendidikan formal setingkat SMP dan SMA dengan program terpadu, memadukan kurikulum Diknas, pesantren dan tahfizh Al-Qur’an sebagai program unggulan. Jumlah santri pada tahun 2023 ini adalah 468 orang, terdiri dari 324 santri SMP putra, 35 santri SMP putri dan 108 SMA putra.

Semoga Pesantren Madinatul Quran terus maju dalam memberikan pelayanan terbaik bagi umat.[]1