Pimpinan MQ Depok Takziyah ke Keluarga Almarhum KH Abdullah Nawawi di Jepara

MQ Depok | Rombongan pimpinan pesantren Madinatul Qur’an Depok melakukan takziyah kepada keluarga almarhum KH. Abdullah Nawawi di Jepara pada Selasa-Rabo, 10-11 Februari 2026 kemarin. Rombongan yang terdiri dari KH Sholihien Hadzieq (ketua Yayasan), KH Zainal Muttaqien (sekretris Yayasan), KH Ghufron Hasan (pengasuh pesantren), Ust Abud Haris (bendahara Yayasan), Ust Ayat Bahrul (direktur pesantren/pendidikan), Ust Dhorifi Zumar (direktur Humas), Ust Wahyudi (staf keuangan), dan Ust Nasron Azizi (staf Mahad MQ), berangkat dari Depok hari Selasa sekitar pukul 16.00 dan tiba di kota Jepara hari Rabo bakda Subuh sekitar pukul 06.00 WIB.

Usai menunaikan shalat Shubuh di sebuah masjid di perbatasan kota Jepara, rombongan tiba di kediaman almarhum ayahanda KH Khoirul Muttaqin (Allahu yarham) di Desa Surodadi Kecamatan Kedung Kabupaten Jepara sekitar pukul 06.30 pagi. Di sana rombongan disambut oleh keluarga besar beliau antara lain Ust Nurul Furqon (kakak Kyai Khoirul), Ust. Ghoutsur Rohman (kakak Kyai Khoirul), Ustazah Mina (istri Kyai Khoirul), Ust Naimin (keponakan Kyai Khoirul),  dan anggota keluarga lainnya yang berjumlah lebih dari sepuluh orang.

KH Sholihien atas nama keluarga besar MQ Depok menyampaikan bela sungkawa dan duka yang sangat mendalam atas kepergian KH Abdullah Nawawi. “Beliau guru kita, orangtua kita… Allahumaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu anhu…,” ungkap beliau.

Kyai Sholihien melanjutkan, kami menyakini beliau husnul khotimah insyaAllah, karena sudah banyak sekali amal shaleh yang menjadi bekal beliau, berupa pengajaran dan kebaikan-kebaikan yang beliau lakukan semasa hidupnya.

مَنْ عَاشَ عَلَى شَيْءٍ مَاتَ عَلَيْهِ، وَمَنْ مَاتَ عَلَى شَيْءٍ بُعِثَ عَلَيْهِ

“Barangsiapa hidup di atas suatu kebiasaan (amalan), maka ia akan mati di atasnya. Dan barangsiapa mati di atas sesuatu, maka ia akan dibangkitkan di atasnya,” ucap beliau mengutip atsar/hikmah dalam Bahasa Arab.

Itu semua adalah buah dari keistiqomahan beliau, sehingga menjelang akhir hayat beliau masih bisa taqarrub kepada Allah. “Allah panggil juga di hari dan bulan yang mulia (Ramadhan), itu sebagai tanda kualitas iman dan amal shaleh beliau,” tambah Kyai Sholihien.

Amal lain adalah ilmu tentunya yang sudah diajarkan kepada kita semua dan mudah-mudahan menjadi jariyah beliau.

Kyai Sholihien juga memohon maaf yang sebesar-besarnya karena baru bisa tiba di Jepara sehari setelah wafatnya beliau. “Karena juga kondisi kami yang jauh dari Depok, sehingga baru tiba sekarang. Kami kesini sebagai bukti cinta kami kepada beliau dan keluarga,” kata beliau.

Sementara itu Ust Nurul Furqon, mewakili keluarga besar almarhum mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas takziyah dan silaturahmi dari pimpinan MQ Depok, karena sudah datang jauh-jauh dari Depok, dimana tidak hanya menempuh waktu perjalanan 1-2 jam tetapi 8 jam.

“Kami juga mohon maaf yang sebesar-besarnya karena dilalah disini tidak ada apa-apa karena pas Ramadhan. Tapi yang penting kita sudah bisa ketemu itu sudah marem,” ungkapnya.

“Bagi kami kerawuhan panjenengan ini merupakan sesuatu yang menyejukkan bagi kami keluarga almarhum. Alhamdulillah kita bisa terikat…mungkin Allah takdirkan kita menjadi seperti saudara. Kalau tidak lewat Al-Qur’an mungkin kami tidak bisa ketemu panjenengan semua…Ada Ust Zainal, Ust Sholihien dan lainnya,” lanjut beliau.

Lebih lanjut Ust Furqon mengatakan, kami itu merasa bapak dan ibu kami ini adalah sosok yang luar biasa. Luar biasanya bagaimana? Kalau kami lihat bapak itu secara ilmu pendidikan formalnya biasa saja, apalagi ibu saya biasa sekali. Namun, karena kesungguhan dalam mendidik anak-anaknya sehingga kami menjadi seperti sekarang ini.

“Intinya, kalau saya mendidik anak-anak saya, saya itu ingin anak-anak saya harus lebih dari saya. Kalau anak-anak saya belum bisa lebih dari saya, maka saya belum sukses. Orang tua yang sukses bagi saya adalah orangtua yang anak-anaknya bisa lebih sukses dari orangtuanya,” tandasnya.

Ust Nurul menambahkan. “Saya lihat walaupun anak-anak bapak itu belajar sama orangtua sendiri tapi alhamdulillah hasilnya luar biasa. Yang dipakai oleh masyarakat sini juga anak-anak dari bapak semua, mulai dari masjid, madrasah tsanawiyah, madrasah diniyah dan lainnya itu yang berkecimpung semua anak-anak dari bapak saya. Nah itu barokah dari kedua orantua dalam mendidik anak-anaknya.”

Dan itu sudah ditularkan kepada anak-anak juga sehingga anak-anaknya mampu mengajar, tentu itu semua dari pola didikan orangtua. Bahkan kemudian bisa mendirikan mahad dan sekolah-sekolah itu semua karena hasil dari didikan orangtua, sehingga jadi seperti multi level marketing.

“Saya bersyukur, alhamdulillah saya dilahirkan dari orangtua yang baik sehingga dapat ilmu yang baik. Itu juga yanga selalu saya ajarkan kepada anak-anak saya. Sehingga cita-cita dari orangtua itu bisa ditularkan kepada anak-anak dan cucu-cucunya,” ujarnya.

“Mungkin itu yang bisa saya sampaikan. Semoga silaturahmi kita tidak terputus dengan tidak adanya orangtua dan juga adik kami, Khoirul. Kita tetap bersilaturahim dan dekat insyaAllah, karena kita dalam satu visi untuk mengajarkan Al-Quran,” harapan beliau.

Pertemuan di ruang tamu kediaman almarhum ditutup dengan bacaan doa dan tahlil yang dipimpin oleh KH Zainal Muttaqien, sekretaris Yayasan MQ.

Ketokohan KH Abdullah Nawawi memang diapresiasi oleh banyak masyarakat Jepara dan sekitarnya. Terbukti Bupati Jepara H. Witiarso Utomo juga mengirimkan karangan bunga sebagai tanda duka cita yang mendalam masyarakat Jepara atas kepergian beliau. Bahkan Menteri Perikanan dan Kelautan Sakti Wahyu Trenggono juga mengirim karangan bunga yang sama sebagai pengakuan ketokohan beliau.

Setelah bermuwajahah yang berlangsung sekitar 2 jam tersebut, rombongan melanjutkan takziyah ke makam almarhum Kyai Abdullah Nawawi, yang berada di pemakaman desa dengan jarak dari kediaman sekitar 2 km. Sebelum kembali ke Depok rombongan mampir sejenak ke kediaman dan pesantren Ust Zaka, ayahanda Ustazah Zaima, musyrifah MQ Depok. Rombongan akhirnya tiba kembali ke Kota Depok sekitar pukul 22.00 WIB malam Kamis.

Dalam lawatan takziyah tersebut, sebelum sampai ke Jepara rombongan MQ juga menyempatkan untuk mampir ke masjid Agung Demak, masjid peninggalan Walisongo dan kerajaan Islam pertama di tanah Jawa. Rombongan tiba sekitar pukul 02.00 dini hari dan langsung menunaikan shalat malam (tarawih/tahajjud) dengan khusyu’ di masjid yang bersejarah tersebut. Setelah itu mencari santapan sahur di rumah makan sekitar masjid Agung Demak. The nice trip !! (dz/humas)

Jurnalis/Editor : Dhorifi Zumar

Leave a Reply